-ANTONIO Gramsci dalam bukunya “Prison Notebooks” menyebutkan,
setiap manusia mempunyai potensi untuk menjadi intelektual, tapi tidak semua orang
adalah intelektual dalam fungsi sosial. Apa yang sebenarnya dimaksud oleh
Gramsci dengan intelektual dalam fungsi sosial?
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia atau KBBI (Badudu, 1996), intelektual diidentikkan dengan kaum intelek, kaum terpelajar, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Sedangkan di dalam Kamus Bahasa Inggris-Indonesia (John M.Echols, 1989), intellectual diartikan sama dengan cendekiawan, cerdik dan pandai. Dalam Kamus Filsafat (Loren Bagus, 1996), intelek diartikan sebagai kemampuan untuk mengetahui, untuk mengerti secara konseptual, dan menghubungkan apa yang diketahui atau dimengerti.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan secara sederhana bahwa kaum intelektual itu adalah sosok teladan, berpendidikan, dan mempunyai pengetahuan yang tinggi. Pertanyaan selanjutnya, apakah mahasiswa termasuk kaum intelektual?
Secara formal, mahasiswa memang kaum intelektual. Ia adalah kaum terdidik. Tapi dalam pengertian intelektual yang sebenarnya, tidak banyak mahasiswa intelektual itu. Setidaknya, hal ini bisa dibuktikan dengan potret mahasiswa dewasa ini. Bagaimana mahasiswa bisa dikatakan kaum intelektual sejati jika ia hanya mementingkan fashion dalam kehidupannya? Kegiatan sehari-hari hanyalah main-main, jalan-jalan, hura-hura, dan malas dengan kegiatan yang bersifat akademik, seperti membaca buku dan diskusi. Sehingga tidak heran, jika banyak masyarakat umum pesimis untuk menaruh harapan pada kaum mahasiswa.
Dalam buku Herien Priyono yang berjudul Mind Writing (Leutika, 2010) menyebutkan, interlegos adalah sosok intelek yang memiliki tiga bangunan kuat yang membawahinya sebagai seorang yang cerdas, yakni paham dengan mendalam, prihatin sepenuh hati, dan tergerak ingin memperbaiki.
Dalam konteks mahasiswa, pertama paham dengan mendalam itu adalah belajar secara kritis dan tekun. Mahasiswa tidak hanya mengandalkan ruang kuliah, tetapi ia juga mencari ilmu lewat berbagai cara, seperti membaca buku, diskusi dan mengikuti kelompok kajian atau diskusi di luar kampus.
Ia berjuang agar memiliki jangkauan pemikiran yang luas dengan mengisi ruang pikirannya dengan berbagai pengetahuan yang berguna. Menggali sumur ilmu pengetahuan lebih dalam agar memperoleh air ilmu pengetahuan yang luas, itulah yang selalu diusahakannya. Ia benar-benar menerapkan konsep belajar seumur hidup seperti yang ajarkan di Pesantren.
Kedua, prihatin sepenuh hati. Yang dimaksud di sini adalah mahasiswa tidak hanya diam dan tertutup dengan kehidupannya sendiri, tapi juga berbaur dan terbuka dengan kehidupan masyarakat di luar kampus. Ketika ada sebuah persoalan di masyarakat, ia hatinya tergerak dan ikut merasakan persoalan masyarakat.
Ketiga, tergerak ingin memperbaiki. Di sinilah poin yang paling penting atas peran kaum intelektual. Ketika ada persoalan di dalam masyarakat kampus atau masyarakat di luar kampus, ia tidak hanya selesai diprihatin saja, melainkan melakukan pembenahan dan perubahan dengan kapasitas pengetahuannya. Orientasi dari gerakan yang dibangun bukanlah untuk popularitas, melainkan benar-benar upaya gerakan moral dan gerakan intelektual.
Kesimpulannya, sudah saatnya mahasiswa kembali ke spirit pemuda-pemuda dulu, di mana dalam konsistensi dan ketekunan meraka dalam mencari ilmu sangat kuat sekalipun situasi dan kondisi saat itu tidak nyaman dan penuh siksaan. Dulu, Bung Karno sekalipun menjadi tahanan politik Belanda dengan diasingkan, tetap saja ia berjuang dan belajar. Bung Hatta di dalam penjara melahirkan buku-buku yang fenomenal. Pramoedya Ananta Toer melahirkan karya-karya sastra sejarah yang mempesona dibalik jeruji besi. Pemuda pada tahun 1945 dengan jumlah sarjana yang tidak sampai 200 mampu memproklamasikan kemerdekaan dan membuat Undang-Undang Dasar 1945.
Apakah kita sebagai generasi penerus akan berdiam saja dan bermalas-malasan di tengah akses informasi yang begitu mudah dan ruang kebebasan yang sangat liar? Jawabanya, ada pada kita semua.
Romel Masykuri Intelektual Muda PMII , Menyeru kita semua untuk merenung dan berbenah diri, ya mari kita coba , bila ada kemauan pasti ada jalan,
Maka dari itu H.Saripudin, S.Ag, MM. tidak ketinggalan setiap kali ada pertemuan menghimbau semua dewan guru untuk menggali Ilmu Pengetahuan, Menambah Keterampilan dan Wawasan.Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia atau KBBI (Badudu, 1996), intelektual diidentikkan dengan kaum intelek, kaum terpelajar, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Sedangkan di dalam Kamus Bahasa Inggris-Indonesia (John M.Echols, 1989), intellectual diartikan sama dengan cendekiawan, cerdik dan pandai. Dalam Kamus Filsafat (Loren Bagus, 1996), intelek diartikan sebagai kemampuan untuk mengetahui, untuk mengerti secara konseptual, dan menghubungkan apa yang diketahui atau dimengerti.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan secara sederhana bahwa kaum intelektual itu adalah sosok teladan, berpendidikan, dan mempunyai pengetahuan yang tinggi. Pertanyaan selanjutnya, apakah mahasiswa termasuk kaum intelektual?
Secara formal, mahasiswa memang kaum intelektual. Ia adalah kaum terdidik. Tapi dalam pengertian intelektual yang sebenarnya, tidak banyak mahasiswa intelektual itu. Setidaknya, hal ini bisa dibuktikan dengan potret mahasiswa dewasa ini. Bagaimana mahasiswa bisa dikatakan kaum intelektual sejati jika ia hanya mementingkan fashion dalam kehidupannya? Kegiatan sehari-hari hanyalah main-main, jalan-jalan, hura-hura, dan malas dengan kegiatan yang bersifat akademik, seperti membaca buku dan diskusi. Sehingga tidak heran, jika banyak masyarakat umum pesimis untuk menaruh harapan pada kaum mahasiswa.
Dalam buku Herien Priyono yang berjudul Mind Writing (Leutika, 2010) menyebutkan, interlegos adalah sosok intelek yang memiliki tiga bangunan kuat yang membawahinya sebagai seorang yang cerdas, yakni paham dengan mendalam, prihatin sepenuh hati, dan tergerak ingin memperbaiki.
Dalam konteks mahasiswa, pertama paham dengan mendalam itu adalah belajar secara kritis dan tekun. Mahasiswa tidak hanya mengandalkan ruang kuliah, tetapi ia juga mencari ilmu lewat berbagai cara, seperti membaca buku, diskusi dan mengikuti kelompok kajian atau diskusi di luar kampus.
Ia berjuang agar memiliki jangkauan pemikiran yang luas dengan mengisi ruang pikirannya dengan berbagai pengetahuan yang berguna. Menggali sumur ilmu pengetahuan lebih dalam agar memperoleh air ilmu pengetahuan yang luas, itulah yang selalu diusahakannya. Ia benar-benar menerapkan konsep belajar seumur hidup seperti yang ajarkan di Pesantren.
Kedua, prihatin sepenuh hati. Yang dimaksud di sini adalah mahasiswa tidak hanya diam dan tertutup dengan kehidupannya sendiri, tapi juga berbaur dan terbuka dengan kehidupan masyarakat di luar kampus. Ketika ada sebuah persoalan di masyarakat, ia hatinya tergerak dan ikut merasakan persoalan masyarakat.
Ketiga, tergerak ingin memperbaiki. Di sinilah poin yang paling penting atas peran kaum intelektual. Ketika ada persoalan di dalam masyarakat kampus atau masyarakat di luar kampus, ia tidak hanya selesai diprihatin saja, melainkan melakukan pembenahan dan perubahan dengan kapasitas pengetahuannya. Orientasi dari gerakan yang dibangun bukanlah untuk popularitas, melainkan benar-benar upaya gerakan moral dan gerakan intelektual.
Kesimpulannya, sudah saatnya mahasiswa kembali ke spirit pemuda-pemuda dulu, di mana dalam konsistensi dan ketekunan meraka dalam mencari ilmu sangat kuat sekalipun situasi dan kondisi saat itu tidak nyaman dan penuh siksaan. Dulu, Bung Karno sekalipun menjadi tahanan politik Belanda dengan diasingkan, tetap saja ia berjuang dan belajar. Bung Hatta di dalam penjara melahirkan buku-buku yang fenomenal. Pramoedya Ananta Toer melahirkan karya-karya sastra sejarah yang mempesona dibalik jeruji besi. Pemuda pada tahun 1945 dengan jumlah sarjana yang tidak sampai 200 mampu memproklamasikan kemerdekaan dan membuat Undang-Undang Dasar 1945.
Apakah kita sebagai generasi penerus akan berdiam saja dan bermalas-malasan di tengah akses informasi yang begitu mudah dan ruang kebebasan yang sangat liar? Jawabanya, ada pada kita semua.
Romel Masykuri Intelektual Muda PMII , Menyeru kita semua untuk merenung dan berbenah diri, ya mari kita coba , bila ada kemauan pasti ada jalan,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar